TAUHID SEBAGAI LANDASAN KEHIDUPAN DAN PERSATUAN KAUM MUSLIMIN

TAUHID SEBAGAI LANDASAN KEHIDUPAN DAN PERSATUAN KAUM MUSLIMIN

Khotib : Mursyid Khairul Ammar
Oleh : Ust. Evan S. Parusa (Bidang Organisasi dan keanggotaan, PW Ikadi DIY)
Edisi 388 | Jumat, 15 Desember 2023 M / 2 Jumadil Akhir 1445 H

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala
Pada Jumat yang mulia ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, serta Maha Pemberi Petunjuk. Atas limpahan rahmat, nikmat, serta hidayah-Nya semata kita semua dapat hadir menunaikan ibadah di masjid ini.

Marilah kita tingkatkan kecintaan kepada baginda Rasulullah Saw. yang telah membawa petunjuk kebenaran kepada umat manusia sehingga umat ini dapat lepas dari zaman jahiliyah menuju zaman yang senantiasa terang benderang dengan petunjuk Allah Swt.

Semoga kita mendapatkan syafaat Rasulullah Saw. dan juga diberi kekuatan untuk melanjutkan dakwah Beliau Saw.

Khatib mengingatkan pada diri sendiri dan juga kepada jamaah untuk bertakwa kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa.

Sungguh, hanya dengan ketakwaan yang benar dan senantiasa terjaga kita akan menjadi muslim yang hakiki. Hal ini sebagaimana Allah Swt. firmankan dalam Qur’an Surah Ali Imran ayat 102 yang artinya “Wahai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala
Kita memasuki masa ketika persatuan umat Islam tak lagi utuh sebagaimana sebelumnya. Kita berada di dalam masa ketika keretakan di antara umat Islam semakin lebar.

Satu kelompok mencela kelompok yang lain. Satu kelompok berseteru dengan kelompok yang lain. Bahkan, ada pula satu kelompok dari umat Islam berperang dan mengangkat senjata untuk menyingkirkan yang lain.

Syaikh Salman al-Audah dalam kitab Kaifa Nakhtalif menggambarkan perselisihan yang terjadi pada Umat Islam. “Mereka (umat Islam) saling berebut dan saling bertengkar mengenai Islam, maka Islampun hancur di tengah-tengah mereka. Sebagian mengambil sepotong dan sebagian lain mengambil sepotong yang lain. Padahal, yang paling beruntung ketika terjadi pertikaian adalah mereka yang tidak terlibat dalam pertikaian tersebut.”

Fenomena perpecahan ini bermula dari perbedaan di antara umat Islam. Perbedaan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang fitrah dan wajar, asalkan masih di dalam syariat Allah Swt. Maka perbedaan adalah rahmat Allah Swt. Tidak layak umat Islam berseteru, berpecah, bahkan bertikai di antara mereka atas dasar perbedaan. Karena sesungguhnya, perbedaan yang diperselisihkan masih jauh lebih kecil dan sedikit dibandingkan dengan persamaan di antara umat Islam. Oleh karena itu, untuk membentuk persatuan umat, langkah yang harus dilakukan antara lain adalah menjadikan tauhid sebagai tuntunan hidup setiap muslim.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.
Tauhid adalah risalah utama dari kehidupan ini. Allah Swt. telah mengirimkan nabi-nabi dan rasul-rasul untuk senantiasa mengajak manusia bersatu di bawah panji kebenaran, yaitu tauhid. Karenanya Allah Swt. menyampaikan di dalam Al-Quran Surah AN-Nahl ayat 36 yang artinya “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut”

Ayat ini menjelaskan bahwa rasul yang diutus Allah Swt. seluruhnya memiliki pesan yang sama, yaitu mengajak untuk menyembah Allah saja dan menjauhi bentuk-bentuk kesyirikan. Karenanya kita perlu untuk kembali menyadari bahwa persamaan yang paling penting di antara umat Islam adalah menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah Swt.

Dan inilah sumber persatuan kita, yakni tauhidullah, beriman kepada Allah Swt.

TAUHID-SEBAGAI-LANDASAN-KEHIDUPAN-DAN-PERSATUAN-KAUM-MUSLIMIN-Oleh-Mursyid-Khairul-Ammar

Fungsi Tauhid di Dalam Diri Umat Islam.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi di dalam kitab Haqiqah at-Tauhid menyampaikan fungsi tauhid di dalam diri umat Islam.

Pertama, tauhid akan membebaskan manusia dari semua belenggu yang mengekangnya. Tauhid akan membawa kepada kesadaran yang hakiki bahwa tidak ada yang berhak atas diri dan kehidupannya selain Allah Swt. Maka seorang Muslim yang bertauhid hidup dengan merdeka, tanpa bayang-bayang dominasi dan kekangan makhluk lain. Karena ia meyakini bahwa hidupnya, matinya dan semua yang dimilikinya hanya dipersembahkan kepada Allah.

Kedua, tauhid membentuk kepribadian seorang muslim seimbang. Pemahaman tauhid membawa manusia pada keseimbangan atas berbagai aspek. Seorang muslim sejati tentu sangat takut kepada Allah Swt. lantaran dosa yang dimiliki. Tetapi dengan tauhid, ia tidak putus asa, karena ia senantiasa berharap pada rahmat dan ampunan Allah Swt. Dalam pembahasan ilmu akidah ini disebut dengan Al-Khauf dan Ar-Raja’, yaitu keseimbangan antara ketakukan kepada Allah, dan berharap terhadap rahmat Allah.

Ketiga, tauhid menjadi sumber ketenangan hati seorang muslim. Tauhid akan membawa seorang muslim mencukupkan diri mereka hanya kepada Allah Swt. dan tidak takut atas prasangka, tipu daya, bahkan kesulitan yang disebabkan oleh makhluk Allah Swt. Bagi seorang muslim asalkan Allah Swt. ridho dengan dirinya itu sudah cukup.

Keempat, tauhid menjadi sumber kekuatan jiwa seorang muslim. Dengan demikian, seorang muslim tidak mudah bersedih, berputus asa, atau bahkan mengutuki kehidupan, karena sejatinya seluruh kehidupan ini telah diatur oleh Allah Swt.

Kelima, tauhid menjadi sumber ukhuwah seorang muslim. Persatuan di antara kaum muslimin didasarkan kepada kesamaan kita untuk mengesakan tuhan yang sama, yaitu Allah Swt. Karenanya perbedaan yang ada selama masih berada di dalam ketetapan Allah Swt. tidak menjadikan sesama muslim berseteru dan berpecah. Justru seharusnya menjadikan sesama muslim saling mencintai dan saling mendukung satu sama lain.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Dengan menjadikan tauhid sebagai landasan kehidupan seorang muslim, insyaallah, persatuan di antara umat Islam dapat terjaga. Dengan tauhid pula perpecahan di antara umat Islam dapat dicegah. Semoga kita dapatmenanamkan jiwa tauhid di dalam diri sehingga kita menjadi penjaga persatuan sekaligus juga menjadi pemersatu umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *