Melatih Pribadi Jiwa Kepemimpinan dengan Upacara Bendera – MTs Muna Falih

upacara bendera di awal minggu tepatnya di setiap hari senin merupakan salah satu momen dimana kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yan disiplin dan bertanggung jawab. Setiap dari kita akan menjadi seorang pemimpin. Karena memang kodrat yang di berikan Allah ta’ala kepada kita adalah menjadi seorang khalifah. Contoh sederhana dari hal kecil menjadi seorang khalifah seperti di dalam upacara bendera adalah menjadi pemimpin barisan.

Seorang pemimpin harus mencerminan sikap disiplin dan tanggung jawab, juga memberikan teladan kepada orang -orang yang kita pimpin. Sebagai pemimpin barisan harus mampu memberikan contoh kedisiplinan, dengan cara mengikuti jalannya upacara dengan khikmat. Dapat memberikan contoh tanggung jawab dengan memastikan barisan yang di pimpin dalam keadaan sebaik mungkin. jika ada yang bermasalahpemimpin barisan wajib memberikan teguran atau bantuan. Menjadi teladan dengan menjalani tanggung jawab dengan disiplin pemimin barisan sudah otomatis memberikan teladan kepadan barisannya.

 

jiwa kepemimpinan dan Bahaya bullying dan perundungan

 

Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan indonesia juga telah mengajarkan kita beberapa hal tentang menjadi seorang pemimpin dalam semboyannya:
1. Ing ngarso sung tulodho: Pemimpin saat berada di depan memberikan “tulodo” contoh, arahan, teladan yang jelas kemana arah tujuan kelompok
2. Ing madyo mangun karso: Di tengah pemimpin dapat memberikan ide, gagasan, bimbingan dan membersamai kelompok dalam mencapai tujuan
3. Tut wuri handayani: Di belakang pemimpin memberikan doronan saat kelompok menghadapi masalah, memberikan suport agad kelompok dapat berjalan dengan baik juga mengawasi jika kelompok mulai berjalan tidak sesuai tujuan.

Di MTs Muna Falih ini semua berharap bisa menerapkan kepemimpinan dengan baik dan maksimal. Agar semua dapat berjalan sesuai visi misi madrasah. Menerapkan kepemimpinan tidak hanya bagi para pemimpin organisasi, para warga semua wajib memimpin pribadi masing masing untuk berjalan sesuai norma, akidah, dan menjalani kehidupan sesuai dengan Al Qur’an dan As sunah.

Dalam waktu dekat ini banyak sekali berita di media tentang kejadian bullying atau perundungan di lingkungan sekolah. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman dalam mencari ilmu dan mengembangkan diri. Remaja adalah waktu dimana seorang manusia mencari jatidiriya, mencari keadaan yang sesuai dengan pribadinya. Namun begitu, masa remaja menjadi saat yang sangat krusial.

Pada masa ini belum matangnya pengalaman dan pola pikir menjadikan para remaja belum bisa menganalisa efek kebelakang tentang apa yang di lakukan. Seperti bullying atau perundungan ini, pelaku perundungan merasa mendapatkan penghormatan, memiliki kuasa atas apa yang bisa dia lakukan. Namun begitu, pelaku perundungan juga bisa dikarenakan ia adalah korban sehingga dia mencari korban lain atau individu lain yang bisa dia perlakukan seperti dia di perlakukan. Namun efek yang di timbulkan untuk korban dapat menjadi sangat mengerikan, takut kesekolah, takut berkumpul, depresi, bahkan bunuh diri. Atau lebih buruk lagi menghasilkan pelaku perundungan yang lain dan menambah korban perundungan di banyak sisi kehidupan.

 

jiwa kepemimpinan dan Bahaya bullying dan perundungan

Oleh karena itu di sini di MTs Muna Falih kita belajar untuk menghormati yang lebih tua dan menghargai/ menyayangi yang lebih muda. Belajar berempati kepada lingkungan. Jika ada siapapun yang kesusahan cobalah kita tanyakan dan sebisa mungkin kita bantu. Jika ada sampah Bolehlah di pungut dan d buang pada tempatnya. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai berikan masukan. Dengarkan pendapat orang lain siapun itu. Pikirkan matang pendapat orang tersebut apakah sesuai dengan kebenaran dan jadikan itu ilmu baru bagi diri sendiri.

Senioritas dalah salah satu alasan adanya perundungan, menunjukkan kekuasaan senior kepada junior. Namun begitu senioritas juga memiliki sisi positif yaitu menghargai kepada yang lebih tua walaupun itu hanya kakak kelas. Ambil sisi positif dari apapun yang ada. Hilangkan hal negatif seperti bullying atau perundungan di sekolah, akan lebih baik jika kita bisa memberikan kebaikan kepada sesama. Karena disini kita adalah keluarga, baik sebagai muslim, keluarga dalam organisasi, dan keluarga sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *