Khotbah Sholat Istisqa MTs Muna Falih 23 Oktober 2023 – Jamaah salat istisqa yang dirahmati Allah swt.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah, yang dengan kasih sayang-Nya, kita masih dikaruniai umur panjang dan bisa menikmati karunia hidup di muka bumi ini. Hari ini, kita berkumpul dalam kebersamaan, bermunajat mengetuk pintu langit mengharap keberkahan turunnya hujan untuk keberlanjutan kehidupan bumi.
Bumi telah memberikan kita tempat untuk hidup, tumbuh, dan berbagi kenikmatan dari Allah. Dalam keadaan suka maupun duka kita tetap harus bersyukur kepada-Nya sebagai sebuah kesadaran bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini ini adalah takdir dan kehendak-Nya.
Selain itu, marilah kita menyampaikan shalawat kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Beliau adalah teladan yang telah mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada alam dan semua makhluk ciptaan Allah. Beliau adalah suri tauladan dalam merawat bumi ini dengan penuh kasih sayang. Kita diajarkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, merawat sumber daya alam, menghindari pemborosan,dan merawat tumbuhan serta hewan yang ada di bumi ini. Shalawat kepada Nabi Muhammad saw adalah bukti cinta dan penghormatan kita terhadap ajaran-Nya yang penuh kasih kepada alam semesta ini.
Khatib juga berwasiat kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Dengan meningkatk an ketakwaan, kita akan mampu menjalankan perintah Allah dengan baik, termasuk perintah untuk merawatjagat ini. Allah swt menciptakan kita sebagai khalifah di bumi ini, yang berarti kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melindunginya.
Jamaah salat istisqa yang dirahmati Allah swt.

Dalam misi menjadi khalifah di bumi, berupa merawat jagat, kita telah diingatkan oleh Allah untuk tidak berbuat kerusakan setelah Allah menciptakannya dengan sesempurna ini. Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 56 yang artinya :
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” Saat kita melanggar perintah tersebut,maka Allah pun sudah mengingatkan dampak yang terjadi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat QS Ar-Rum ayat 41 yang artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.(Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Jamaah salat istisqa yang dirahmati Allah swt.,
Kemudian yang harus menjadi bahan muhasabah atau introspeksi kita semua adalah bagaimanakah kondisi lingkungan di sekitar kita? Apakah kita sudah dengan baik menjaganya? Ataukah tanda-tanda kerusakan ataupun kerusakan sudah terlihat yang dampak negatifnya sudah kita rasakan? Jika kondisi itu sudah mulai terlihat,dirasakan, dan dialami, maka sudah seharusnya kita segera menyadarinya dan menguatkan komitmen untuk lebih menjaganya.
Semua itu harus diawali dari setiap individu yang kemudian akan menjadi sebuah gerakan kolektif untuk merawat lingkungan untuk keberlanjutan kehidupan. Kemarau panjang yang saat ini kita rasakan juga harus menjadi bahan evaluasi bagi kita. Kondisi cuaca kian tidak menentu. Siklus musim penghujan dan musim kemarau sulit diprediksi. Musim dan suhu panas bumi semakin tinggi akibat dari semakin gundulnya pegunungan dan tandusnya lahan dampak penebangan pohon secara masif dan sembarangan.

Ketika musim penghujan datang, bencana pun sudah mengintai seperti tanah longsor karena tidak ada resapan air dan pohon yang menguatkan tanah sehingga air mengalir dengan cepat mengakibatkan banjir. Hal ini diperburuk dengan menggunungnya sampah dan kurangnya kesadaran dalam mengelolanya. Semua saling berkelindan dan mengakibatkan dampak negatif yang akibat buruknya akan kembali kepada kita. Maka itu, perlu komitmen kita untuk merawat jagat ini sehingga air akan bisa tetap mengalir membawa rahmat bagi alam semesta. Di antaranya dengan tidak menebang pohon sembarangan dan memperkuat reboisasi agar bumi tetap hijau dan sejuk.
Jamaah salat istisqa yang dirahmati Allah swt.
Pada Momentum musim kemarau ini, mari kita merenung, beristighfar, dan bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan kita, khususnya sikap tidak bertanggungjawabnya kita dalam menjaga lingkungan. Istighfar dan bertaubat menjadi salah satu wasilah keberkahan turunnya air hujan dari langit sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 10-11 yang artinya:
“Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu.Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”
