Khotbah Jum’at MTs Muna Falih Peran Ilmu Bagi Keimanan Seseorang- Ustadz Fadhlurrahman Yusuf Fardan, S.T.

Khotbah Jum’at MTs Muna Falih Peran Ilmu Bagi Keimanan Seseorang- Ustadz Fadhlurrahman Yusuf Fardan, S.T.

Menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim. Batasan seorang manusiaberhenti belajar atau menuntut ilmu adalah kematian. Dengan ilmu kita dapat menjaga keimanan kita kepada Allah ta’ala, bahkan dengan ilmu kita dapat meningkatkan keimanan kita.

Iman adalah nikmat tak ternilai yang diberikan Allah Ta’ala kepada kaum mukmin. Menjaga keimanan kepada Allah ta’ala adalah kewajiban setiap muslim. Sala satu cara untuk menjaga keimanan itu adalah dengan menuntut ilmu.

Bahkan Allah ta’ala menjanjikan kepada orang yang menuntut ilmu derajat yang lebih tinggi.

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa orang yang memberikan kemudahan kelapangan di dalam majelis Allah juga akan memberikan kelapangan baginya, dan bagi orang orang beriman menuntut ilmu akan di berikan derajat oleh Allah ta’ala.

lalu apakah perbedaan orang berilmu dengan orang – orang yang tidak berilmu? dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Az-Zumar ayat 9 yang artinya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.”

orang berilmu dapat menerima pelajaran atau dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah ta’ala lewat segala hal yang ada disekitarnya. Melihat tanda tanda kebesaran-Nya yang tidak dapat di lihat oleh orang yang tidak berilmu, dan dia mampu untuk mengingat Allah lewat tanda-tanda tersebut.

Orang yang berilmu dapat memahami bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah, bujan karya tangan mannusia. Kitab yang dapat menjangkau semua masa, semua lini, dapat di gunakan sebagai pedoman dalam segala hal yang tidak akan ada manusia yang mampu membuatnya.

Orang berilkmu melihat bagaimana unta diciptakan, bagaimana seekor unta dengan gagahnya mampu bertahan hiduo di gurun yang begitu panas. Melihat gunung – gunung di tancapkan untuk menjaga bumi agar seimbang dan tidak berguncang agar dapat di tinggali oleh umat manusia, bagaimnana langit yang begiutu luas ditegakkan, bagi orang berilmu melihat semua itu adalah ayat yang akhirnya akan berdzikir kepada Allah ta’ala.

Khotbah Jum'at Madrasah tsanawiyah Muna Falih

 

Ketika orang berilmu membaca biografi orang – orang terdahulu, membaca sejarah dunia, dia akan semakin menuju kepada Allah. Ketika seorang manusia belajar namun imanny berkuran, atau meragukan kebesaran Allah ta’ala pasti ada kesalahan dalam ia belajar.

Dari Abu Ad-Darda’ R.A. berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah Swt. akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang diperbuatnya. Dan bahwasanya penghuni langit dan bumi serta ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang ‘alim (berilmu). Keutamaan orang ‘alim (berilmu) terhadap orang ‘abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan bahwasanya para nabi tidak akan mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barang siapa yang mununtut ilmu darinya, maka dia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dijelaskan dalam riwayat tersebut bahwa ikan di dalam lautan yang belum tentu bertemu dengan orang berilmu atau bahkan tidak pernah bertemu pun mendo’akan, meminta ampunan Allah ta’ala kepada orang berilmu.

apakah ada alasan jelas kenapa para ikan yang jauh di dalam laut pun memintakan ampunan bagi orang-orang berilmu? tentu saja, orang berilmu tidak akan merusak lingkungan, tidak akan melakukan eksploitasi yang merugikan makhluk lain.

Dan akan menjaga lingkungan. Dengan lingkungan yang terjaga, makhluk-makhluk lain akan terkena dampak baik dari sikap orang-orang berilmu tersebut. oleh karenanya, ikan – ikan yang tidak pernah bertemu pun memintakan ampun karena mereka terjaga dari hal-hal buruk, atau minimalnya mereka sedikit terbantu untuk hidup.

Orang dikatakan tidaki berilmu jika menghasilkan kerusakan. karena orang berilmu pasti akan memikirkan dampak yang akan terjadi dari perbuatan yang dia lakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *