Khotbah Jum’at MTs Muna Falih 08 Desember 2023 – Keutamaan Guru dalam Islam – Arya Sadewa Farid Athallah

KEUTAMAAN GURU DALAM ISLAM

Oleh: Ust. Wahyudin, S.Pd. (Sekretaris 1, PW Ikadi DIY)

Khatib: Arya Sadewa Farid Athallah

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah
Guru merupakan salah satu sosok yang berjasa dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, wajar disebutkan bahwa guru adalah adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Guru tidak mendapatkan lencana pahlawan atas jasa-jasanya tersebut. Hal ini sebagaimana dituliskan dalam bait syair lagu “Hymne Guru” dengan ungkapan: “Engkau bagai pelita dalam kegelapan // Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan // Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Nasib pilu guru tecerminkan dari gaji yang di banyak tempat masih sangat minim, jauh di bawah upah minimum harian atau UMR. Atau kadang kita mendengar kisah seorang guru yang disakiti fisiknya oleh muridnya atau orang-orang suruhan hanya disebabkan menegur muridnya yang kebetulan anak orang kaya atau pejabat yang berkelakuan tidak baik, seperti merokok di lingkungan sekolah.

Jama’ah sidang Jumat rahimakumullah

Di dalam bahasa Arab “guru” memiliki banyak padanan penyebutan, seperti ustadz, mudarris, mu’allim, dan murabbi yang masing-masing memiliki spesifikasi tersendiri dalam maknanya. Ada yang merupakan sebutan guru sebagai pendidikan formal seperti mudarris dan mu’allim, maupun dalam arti pendidik non formal, yaitu murabbi atau pembimbing.

Rasulullah Saw. merupakan guru pertama dan utama bagi kaum muslimin. Allah Swt. menjelaskan tugas Rasul sebagaimana difirmankan dalam Alquran. (Q.s. Al-Jumu’ah: 2) yang Artinya:

Dialah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang ummi (tidak pandai baca tulis) seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Ayat ini menunjukkan bahwa di antara tugas Rasulullah Saw. kepada umatnya adalah (1) membacakan ayat-ayat-Nya (fungsi tilawah), (2) mensucikan hati (fungsi tazkiyah), dan (3) mengajarkan Kitab (Alquran) dan Hikmah (As Sunnah) (fungsi taklim).

Rasulullah Saw. mengemban tugas sebagai mu’allim dan murabbi dengan sangat sempurna. Hasilnya, bangsa Arab yang semula berada pada masa jahiliyah, sebagai bangsa yang “ummi” (tidak pandai baca tulis), mampu tumbuh menjadi bangsa yang besar dan beradab serta memiliki ‘izzah (harga diri) yang tinggi. Mereka tumbuh menjadi umat yang merdeka, yang tidak diperbudak oleh hawa nafsu.

Dari bangsa inilah kemudian muncul ilmuwan-ilmuwan muslim. Mereka menguasai keilmuan secara luas dan mendalam dalam berbagai bidang ilmu, antara lain kedokteran, astronomi, sastra, geografi, matematika, kimia, dan sejarah. Pada masa itu tumbuh juga pusat-pusat ilmu pengetahuan di negeri-negeri Islam.

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah.

Teladan kita, Rasulullah Saw. menjelaskan keutamaan ilmu yang salah satu pintu masuknya adalah guru.

“Barang siapa menginginkan kebaikan di dunia ini, hendaklah ia mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menginginkan kebaikan di akhirat, maka ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah mencari ilmu” (H.r Thabrani).

Oleh karena itu, Islam sangat menghargai peran guru yang sangat luar biasa dan mulia sebagai jembatan dan gerbang bagi murid untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, baik dalam hal wawasan maupun keteladanan.

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan beberapa keutamaan guru dalam arti non formal yang sering disebut murabbi. Murabbi sebagai pendidik dan pembimbing tidak hanya berorientasi mengajarkan ilmu saja, tetapi dalam waktu yang sama mencoba mendidik ruhani (ruh, hati), jasmani (fisik), dan mental, sikap, akhlak, serta perilaku anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Di antara keutamaan murabbi adalah sebagai berikut.

  1. Menjalankan Sunnah Rasul.

Seorang murabbi melakukan pembinaan kepada anak didiknya dengan penuh kasih sayang, lembah-lembut, sabar, dan semangat tanpa kenal Lelah berarti telah melaksanakan sunah Rasul-Nya. Begitulah, Rasulullah Saw. selaku murabbi umat, telah melakukan pembinaan selama 23 tahun, semenjak beliau diangkat sebagai rasul (pada usia 40 tahun) hingga wafatnya pada usia 63 tahun.

  1. Mendapatkan kebaikan (pahala) yang berlipat ganda.

Barangsiapa yang mengajarkan Islam kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

“Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah kepada seorang laki-laki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu lebih baik daripada engkau memiliki unta-unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih).

  1. Mencetak pribadi-pribadi unggul

Sejalan dengan fungsi dan tugasnya sebagai murabbi yang menjalankan pengajaran (membacakan ayat-ayat Allah), menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) peserta didik sehingga hanya bergantung kepada Allah, serta melaksanakan fungsi taklim – transfer ilmu, maka menjadi murobbi berarti turut membina pribadi-pribadi unggul yang menjadi harapan umat dan bangsa pada saat dekadensi moral sedang melanda generasi muda saat ini.

Di dalam hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a.,  Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalihan akhlak.” (H.r. Al-Baihaqi).

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah.

Secara umum, memang benar bahwa guru atau pendidik kita adalah manusia. Namun demikian, ternyata kita dapat belajar dan mengambil pelajaran dari berbagai mahluk yang Allah ciptakan di alam semesta ini atau peristiwa-peristiwanya.

Kita dapat mengambil manfaat ilmu dari perjalanan hidup seekor ulat yang setelah menjalani masa “puasa” sebagai kepompong, ia keluar sebagai kupu-kupu yang indah, makan yang baik-baik, serta membantu penyerbukan pada bunga. Atau pada lebah yang banyak memberikan manfaat membantu penyerbukan bunga serta menghasilkan madu.

Kita dapat berguru pada padi dalam hal ketawadluan atau kerendahhatian. Seperti kita ketahui, ilmu padi adalah semakin berisi semakin merunduk. Atau belajar pada gula dalam hal mampu menahan amarahnya ketika menjadi pelampiasan ketidakpuasan manusia.

Orang sering menyalahkan gula, ketika mereka minum teh atau kopi tidak manis, maka mereka akan menyalahkan minuman ini kurang gula. Tapi ketika minumannya terasa enak, maka yang disanjung adalah teh yang sedap atau kopi yang luar biasa dan mantap rasanya. Sebaliknya ketika manusia terkena penyakit diabetes, maka akan disalahkan gara-gara kadar gulanya yang tinggi.

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah.

Guru telah mengajarkan kita berbagai macam ilmu, adab, keteladanan, dan pengorbanan demi kebaikan kita. Memuliakannya adalah suatu kewajiban dan konsekuensi logis sebagai murid. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita juga selalu mendoakan kebaikan bagi guru-guru dan murabbi kita.

Dalam sebuah lantunan doa dituliskan,

Wahai Allah, ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang. 

Demikianlah, semoga guru-guru kita yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia senantiasa mendapatkan kebaikan atas ilmu yang telah diajarkan, tenaga dan waktu juga harta benda yang mereka korbankan, serta kasih sayang yang selalu mereka curahkan. Aamiin yaa rabbal’aalamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *